Selasa, 08 Februari 2011

PENGANTAR AKUNTANSI DAN BISNIS

Akuntansi merupakan suatu pengetahuan yang banyak menawarkan tantangan intelektual mengingat akuntansi dapat digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan yang lebih luas daripada apa yang dicontohkan di atas yaitu tujuan perusahaan yang besar dan bahkan tujuan negara (pemerintah). Meskipun demikian, dua kasus di atas menjelaskan gagasan umum tentang apa akuntansi itu.

Dewasa ini, akuntansi telah menjadi bagian dari kehidupan bisnis dan pemerintahan. Salah satu sebab pesatnya perkembangan pengetahuan akuntansi adalah meningkatnya kebutuhan akan pengelolaan operasi perusahaan dan pertanggungjawaban keuangan. Perkembangan akuntansi di Indonesia juga menda­pat tempat yang cukup istimewa. Hal ini ditunjukkan dengan masuknya akuntansi sebagai suatu bidang studi di perguruan tinggi dan merupakan bahan pelatihan dalam kursus-kursus maupun pendidikan keterampilan lainnya. Akan tetapi, perlu ditekankan bahwa akuntansi bukan semata-mata ketrampilan tek­nis atau proses pencatatan.

Istilah Akuntansi

Dari segi istilah, kata akuntansi berasal dari kata bahasa Inggris to account yang berarti memperhitungkan atau mempertanggungjawabkan. Kata akuntansi sebenarnya diserap dari kata accountancy yang berarti hal-hal yang bersangkutan dengan accountant (akuntan) atau bersangkutan dengan hal-hal yang dikerjakan oleh akuntan dalam menjalankan profesinya. Sebagai bidang pengetahuan, Isti­lah yang umum digunakan adalah accounting yang mempunyai pengertian lebih luas daripada accountancy (yang lebih berkaitan dengan profess atau implemen­tasi pengetahuan akuntansi).

Oleh karena itu, sebagai seperangkat pengetahuan atau bidang studi, istilah hahasa Indonesia yang digunakan untuk mengacunya seharusnya diturunkan dari kata accounting bukannya accountancy Kamus Besar Bahasa Indonesia te­lah menyerap kata account menjadi akun.

PENGERTIAN AKUNTANSI

Akuntansi sangat erat kaitannya dengan informasi keuangan. Badan yang ber­wenang dan beberapa ahli memberi peng,-;rtian yang bervariasi bergantung pada sudut dan penekanan yang mereka a:iut. Akan tetapi, pada prinsipnya apa yang diungkapkan oleh para ahli tersebut menuju ke satu pengertian akuntansi kare­na sebenarnya mereka membahas satu bahan olah (objek) yang sama yaitu infor­masi keuangan. Di samping itu, pengertian akuntansi juga berubah sesuai dengan perkembangan jaman dan teknologi.

Akuntansi adalah seni pencatatan, penggolongan, dan peringkasan transaksi don kejadian yang bersifat keuangan dengan cara yang berdaya guna dan dalam bentuk satuan uang, dan penginterpretasian hasil proses tersebut. Pengertian seni dalam definisi tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa akuntan­si bukan merupakan ilmu pengetahuan eksakta atau sains (science) karena dalam proses penalaran dari perancangan akuntansi banyak terlibat unsur pertimbangan (judgment). Seni dalam definisi di atas lebih mempunyai konotasi se­bagai kerajinan dan keterampilan atau pengetahuan terapan yang isi dan strukturnya disesuaikan dengan kebutuhan untuk mencapai suatu tujuan. Pengertian seni mengacu pada keahlian untuk memilih (prinsip, metoda, dan teknik) yang sesuai dengan kebutuhan dan selera yang menggunakan akuntansi. Lagi pula, akuntansi merupakan suatu alat yang bentuk dan isinya sangat bergantung pada kondisi lingkungan diterapkannya akuntansi.

Definisi revision

Akuntansi adalah seperangkat pengetahuan dan fungsi yang berkepentingan dengan masalah pengadaan, pengabsahan, pencatatan, pengklasifikasian, pemrosesan, peringkasan, penganalisisan, penginterpretasian, dan penyajian secara sistematik informasi yang dapat dipercaya dan berdaya guna tentang transaksi dan kejadian yang bersifat keuangan yang diperlukan dalam pengelolaan dan pengoperasian suatu unit usaha dan yang diperlukan untuk dasar penyusunan laporan yang harus disampaikan untuk memenuhi pertanggung­jawaban penyusunan keuangan dan lainnya. Di sini, akuntansi tidak dipandang semata-mata sebagai proses dan alat tetapi merupakan seperangkat pengetahuan tentang bagaimana menghasilkan informasi keuangan untuk keperluan pengen­dalian perusahian dan pertanggungjawaban. Pengetahuan akuntansi menjadi penting karena dengan pengetahuan tersebut, pertimbangan (judgment) orang yang akan merancang dan menerapkan akuntansi mempunyai landasan yang kuat.

Akuntansi adalah kegiatan/fungsi penyediaan jasa. Fungsinya adalah menyediakan informasi kuantitatif tentang unit-unit usaha ekonomik, terutama yang ber­sifat keuangan, yang diperkirakan bermanfaat dalam pengambilan keputusan-­keputusan ekonomik. Akuntansi menghasilkan informasi tidak hanya untuk ke­pentingan pengendalian dan pertanggungjawaban tetapi lebih luas lagi yaitu menghasilkan informasi untuk mempengaruhi para pelaku ekonomi dalam perekonomian suatu negara, Ini berarti bahwa akuntansi (informasi yang di­hasilkan) dapat dijadikan alat untuk mengendalikan variabel-variabel ekonomi dan sosial dalarl suatu negara.

Definisi Operasional

Atas dasar pengertian yang terkandung daiam definisi-definisi di alas, akuntansi dapat didefinisi secara operasional agar pengertian akuntansi menjadi lebih mudah dipahami tanpa menghilangkan makna yang terdapat dalam tiap definisi di atas. Secara operasional, akuntansi didefinisi dari dua sudut pengertian yaitu sebagai disiplin/bidang pengetahuan (studi) yang diajarkan di institusi pendi­dikan dan sebagai kegiatan/proses yang dilakukan di dalam praktik. Dari sudut bidang studi, akuntansi dapat diartikan sebagai:

seperangkat pengetahuan yang mempelajari perekayasaan penyediaan jasa berupa informasi keuangan kuantitatif suatu unit organisasi dan Akuntansi sebagai cara penyampaian (pelaporan) informasi tersebut kepada pihak yang berkepentingan untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan ekonomik.

Kalau suatu struktur akuntansi sebagai hasil perekayasaan telah diaplikasi dalam lingkungan tertentu maka akuntansi dapat dipandang secara sempit se­bagai proses atau kegiatan yang dapat didefinisi sebagai: proses pengidentifikasian, pengukuran, pencatatan, pengklasifikasian, penguraian, penggabungan, peringkasan dan penyajian data keuangan dasar yang terjadi dari kejadian-kejadian, transaksi-transaksi atau kegiatan operasi suatu unit organisasi dengan cara tertentu untuk menghasilkan informasi yang relevan bagi pihak yang berkepentingan.

Perekayasaan Penyediaan Jasa

Perekayasaan adalah suatu proses pemikiran untuk memilih seperangkat kon­sep, teknologi dan pendekatan untuk mencapai suatu tujuan. Akuntansi dikata­kan sebagai bidang pengetahuan perekayasaan berarti bahwa akuntansi berkaitan dan berkepentingan dengan penentuan, pemilihan, dan aplikasi kon­sep-konsep, metoda, teknologi dan pendekatan untuk mencapai tujuan sosial tertentu dengaii mempertimbangkan faktor sosial, ekonomi, politik, dan budaya tempat akuntansi akan diterapkan.

Dalam perekayasaan tersebut, tujuan sosial atau ekonomik dijabarkan dalam tujuan akuntansi atau tujuan pelaporan keuangan. Hasil proses pereka­yasaan akuntansi adalah suatu rerangka konseptual pelaporan keuangan yang menjadi landasan bertindak bagi penyedia dan bagi yang dituju informasi atau pihak lain yang berkepentingan. Kalau lingkup operasi akuntansi dapat dianalo­gi dengan lingkup operasi suatu negara, rerangka konseptual pelaporan keu­angan tersebut dapat dianalogi dengan undang-undang dasar atau konstitusi yang mengarahkan praktik pelaporan informasi keuangan dalam suatu negara tertentu. Agar akuntansi menjadi efektif sebagai alat, rerangka pelaporan (se­bagai "konstitusi') tersebut dijabarkan (dioperasionalkan) dalam bentuk standar akuntansi (accounting standards) untuk mengarahkan praktik akuntansi. "Cara tertentu" yang disebut dalam kata-kata kunci merupakan hasil akhir proses perekayasaan akuntansi. Akuntansi yang berjalan dalam suatu negara jelas tidak lepas dari hasil proses perekayasaan yang dilandasi oleh asumsi-asumsi terten­tu. Misalnya saja, di Amerika akuntansi dikembangkan dengan asumsi bahwa yang dituju oleh informasi akuntansi adalah investor dan kreditor dan bahwa sistem perekonomian didasarkan pada mekanisme pasar.

Jadi jelaslah bahwa akuntansi tidak semata-mata membahas tata cara mengolah data tetapi mencakup pula proses pemikiran dan pemilihan (perekayasaan) konsep yang relevan untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, akuntansi akan membahas juga masalah siapa yang berkepentingan, informasi apa yang perlu disajikan, mengapa informasi tersebut diperlukan, bagaimana informasi tersebut diolah dan kapan informasi tersebut disajikan.

Informasi

Akuntansi menghasilkan informasi yang dituangkan dalam bentuk laporan atau statemen keuangan. Informasi itu sendiri adalah data atau fakta yang diolah dan disajikan dengan cara tertentu sehingga mempunyai makna bagi yang berkepentingan atau bagi yang dituju oleh informasi tersebut. Untuk dapat menjadi informasi, data harus diproses untuk disajikan sesuai dengan kebutuhan pemakai tertentu (akan dibahas kemudian). Data merupakan bahan mentah untuk memproduksi informasi tanpa data tidak akan dapat di­hasilkan informas,. Oleh karena itu, untuk dapat disebut sebagai informasi bagi yang menerima (resipien), suatu informasi harus mempunyai makna tertentu yang bermanfaat (meaningful) bagi penerimanya. Suatu data akan merupakan informasi kalau data tersebut menambah pengetahuan (knowledge) bagi pembacanya. Secara singkat dapat dikatakan bahwa untuk menjadi informasi suatu data harus mempunyai nilai informasi dan kualitas tertentu.

Nilai informasi

Nilai informasi hanya dapat ditentukan secara relatif dalam hubungannya dengan pengambilan keputusan tertentu. Agar dapat dikatakan mempunyai nilai dalam pengambilan keputusan, suatu informasi harus dapat:

· Menambah pengetahuan pengambil keputusan (baik pengetahuan masa sekarang maupun mendatang).

· Menambah keyakinan pemakai informasi mengenai probabilitas terea­lisasinya suatu harapan dalam kondisi ketidakpastian (mengurangi ketidakpastian).

· Mengubah keputusan atau menyebabkan perubahan perilaku (tin­dakan).

Kualitas informasl

Kualitas, informasi berkaitan dengan intensitas informasi dalam memenuhi nilai informasi di atas. Kualitas yang tinggi akan memberi kepuasan (utility) yang tinggi pula bagi penlakainya. Dengan kata lain, kualitas informasi bergantung pada kebutuhan pemakai (relevansi) dan proses penyediaan informasi (reliabilitas). Relevansi dan reliabilitas (keterandalan) merupakan kualitas informasi utama yang dianjurkan oleh Financial Accounting Standards Board (FASB). Berikut ini dibahas kedua karakteristik kualitatif utama tersebut.

Relevansi (relevance)

Informasi mempunyai nilai tinggi kalau informasi tersebut berkaitan dengan dan membuat perbedaan dalam suatu pengambilan keputusan. Perbedaan dalam pengambilan keputusan dapat terjadi kalau suatu informasi mampu membantu pemakai untuk memprediksi dengan cukup pasti apa akibat dari suatu peristiwa masa lalu, sekarang, dan mendatang sehingga keyakinan pema­kai terhadap harapan-harapan sebelumnya menjadi lebih tinggi. Agar relevan suatu informasi harus memenuhi ketiga syarat berikut: bernilai prediktif, ber­nilai balikan, dan tersedia tepat pada waktu dibutuhkan.

Nilai prediktif (predictive value). Kualitas ini terletak pada kemampuan informasi dalam membantu pemakai memprediksi basil atau akibat suatu peristiwa masa lalu, sekarang, atau yang akan terjadi.

Nilai balikan (feedback value). Kualitas ini terletak pada kemampuan informasi dalam membantu pemakai mengkonfirmasi/meyakinkan bahwa harapan-ha­rapan sebelumnya telah tercapai atau menyimpang dari kenyataan. Dengan demikian, pemakai dapat memperbaiki harapan terhadap peristiwa yang serupa di masa datang.

Ketepatwaktuan (timeliness). Kualitas ini berkaitan dengan ketersediaan infor­masi pada saat dibutuhkan. Informasi yang sebenarnya bernilai prediksi dan ba­likan tinggi dapat menjadi tidak relevan kalau tidak tersedia pada saat dibutuhkan. Ketepatwaktuan informasi mengandung pengertian bahwa infor­masi tersedia sebelum kehilangan kemampuannya untuk mempengaruhi atau membuat perbedaan dalam keputusan.

Relevansi informasi sering dihubungkan pula dengan tingkat peringkasan informasi. Pada umumnya tingkatan manajemen yang tinggi memerlukan informasi yang lebih ringkas dibandingkan dengan tingkatan manajemen yang lebih rendah.

Reliabilitas (reliability)

Informasi akan menjadi berkurang nilainya kalau orang yang menggunakan informasi meragukan keterandalan (reliabilitas) informasi tersebut. Reliabilitas biasanya bersangkutan dengan sumber informasi dan cara pengolahannya. Jadi, informasi akan mempunyai nilai yang tinggi kalau pemakai rnempunyai keyakinan terhadap keabsahan informasi. Agar terandalkan (reliable), informasi harus memenulti karakteristik-karakteristik berikut:

Keterujian (verifiability). Informasi dapat diandalkan kualitasnya kalau informasi tersebut dapat diuji kebenarannya berdasarkan fakta-fakta yang mendukungnya. Dalam akuntansi, kebenaran informasi berkaitan erat dengan sumber dan peng­ukuran jumlah rupiah suatu objek transaksi. Oleh karena itu, bukti transaksi merupakan hal yang sangat penting dalam akuntansi.

Kenetralan (neutrality). Informasi dapat diandalkan kualitasnya kalau informasi tersebut behas ciari bias balk dalam pengukuran maupun penyajiannya. Kene­tralan memberi isyarat bahwa informasi tidak disajikan dengan cara tertentu yang mengarahkan pemakai untuk melakukan tindakan tertentu sesuai dengan keinginan penyaji informasi.

Ketepatan penyimbolan (representational faithfulness). Informasi akuntansi sering dinyatakan dalam bentuk simbol-simbol beserta pengukurannya untuk merepresentasi suatu fenomena atau objek ekonomik tertentu yang kompleks. Elernen laporan keuangan (misalnya aktiva atau aset) merupakan simbol untuk merepresentasi kondisi perusahaan dari segi keuangan. Informasi keuangan dapat diandalkan kualitasnya kalau simbol-simbol yang digunakan dan diukur merepresentasi dengan tepat kondisi/fenomena yang memang dimaksudkan un­tuk diungkapkan secara finansial.

Selain kedua, karakteristik utama kualitas informasi yang dibahas di atas, beberapa faktor lain juga menentukan kualitas informasi. Faktor ini biasanya berkaitan dungan keefektifan penyediaan informasi (oleh sistem informasi) un­tuk digunakan oleh pemakai (misalnya manajer).

Ketelitian (accuracy). Informasi harus bebas dari kesalahan pengukuran karena kesalahan pengukuran dapat mengurangi nilai informasi. Ketelitian berkaitan dengan tingkat penyimpangan hasil pengukuran dengan ukuran sesungguhnya objek yang diukur. Angka-angka prakiraan (misalnya ramalan penjualan) dikatakan teliti kalau angka ramalan tersebut ternyata sama atau mendekati angka penjualan yang sesungguhnya terjadi. Untuk menghasilkan informasi yang kete­litiannya tinggi biasanya diperlukan kos (biaya) yang tinggi pula (makin mahal informasi tersebut untuk didapat).

Bentuk (form) lnformasi harus disajikan dalam format yang paling sesuai dengan permintaan pemakainya. Informasi dapat disajikan dalam bentuk Ia­poran di atas kertas, disket, tampilan di layar monitor, atau dalam bentuk yang dapat dibaca dengan mudah oleh pemakainya. Peringkasan data menjadi infor­masi sesuai dengan tingkatan manajemen juga merupakan salah satu bentuk penyajian informasi. Manajemen puncak berkepentingan dengan data ringkasan sedangkan manajemen operasi berkepentingan dengan data rinci. Juga, manajemen puncak pada umumnya lebih menyukai penyajian data dalam bentuk grafik atau gambar.

Tempat (place). Informasi mempunyai nilai yang tinggi kalau informasi tersim­pan dalam bentuk yang mudah diperoleh (diakses) kembali pada saat dibutuh­kan. Tentu saja tempat informasi tidak harus secara fisik dekat dengan pemakainya. Asalkan data dapat dikirim dengan cepat (melalui jaringan telekomunikasi, misalnya dengan mesin facsimile/fax atau on-line computer systems), tempat dan bentuk penyimpanan informasi tidak menjadi masalah yang dapat mempengaruhi nilai informasi.

Laporan Keuangan Kuantitatif

Walaupun akuntansi berusaha untuk menghasilkan informasi mengenai suatu unit organisasi, akuntansi tidak dapat memberikan segala macam informasi tentang unit organisasi tersebut. Akuntansi hanyalah menyediakan sebagian aspek informasi tentang suahu unit organisasi yaitu informasi kuantitatif yang dituang­kan dalam bentuk laporan keuangan. Laporan keuangan hanya menyajikan keja­dian-kejadian yang dapat dinyntnkan secant kuantitatif dalam bentuk satuan mata uang (misalnya rupiah) Laporan ini biasanya digunakan sebagai media ko­munikasi untuk pertanggungjawaban manajemen kepada pihak berkepentingan (terutama pemilik).

Transaksi Keuangan

Transaksi keuangan adalah kegiatan ekonomik suatu unit organisasi atau kejadian yang menyangkut unit organisasi yang objeknya harus diukur jumlah rupiahnya (kosnya) dan dicatat dalam sistem akuntansi sehingga jumlah rupiahnya akan mempengaruhi atau tercermin dalam laporan keuangan yang dihasilkan untuk dapat dikatakan sebagai transaksi keuangan, transaksi tersebut harus melibatkan suatu objek yang dapat dinyatakan dalam satuan uang. Kalau tidak, transaksi tersebut tidak termasuk dalam pengertian transaksi keuangan. Tentu saja, untuk dapat disebut sebagai transaksi, kegiatan tersebut tidak harus berupa kegiatan fisik.

Untuk suatu unit organisasi berupa perusahaan, transaksi keuangan dapat digolongkan menjadi transaksi eksternal dan transaksi internal. Transaksi eksternal adalah transaksi yang terjadi antara perusahaan dengan pihak luar pe­rusahaan (termasuk pemilik yang dianggap pihak luar). Transaksi penjualan barang, pemberian kredit oleh bank, pelunasan utang, dan pembayaran dividen kepada pemilik adalah contoh transaksi eksternal. Transaksi internal adalah transaksi yang terjadi dalam unit perusahaan misalnya, kegiatan produksi, pe­makaian bahan baku untuk dimasukkan ke dalam proses produksi, pencatatan jumlah rupiah pemakaian tenaga kerja, kebakaran (atau musibah lainnya), dan kerusakan mesin.

Pihak Yang Berkepentingan

Pihak yang berkepentingan dengan informasi keuangan unit organisasi perusahaan terdiri atas pihak internal dan eksternal. Manajemen jelas merupakan pihak internal yang berkepentingan langsung dan sangat membutuhkan informasi keuangan untuk tujuan perencanaan (planning), pengkoordinasian Pihak Internal utama yang (coordinating), dan pengendalian (controlling) operasi perusahaan. Informasi ­pada umumnya dituangkan dalam laporan, manajerial (managerial reports) yang antara lain berupa: laporan interim, laporan unit produksi, laporan penjualan per daerah pemasaran (dalam unit dan rupiah), laporan pertanggungjawaban keuangan divisi, laporan penyimpangan produksi, dan lain sebagainya.

Pihak lain (biasanya eksternal) yang mempunyai kepentingan langsung dengan perusahaan adalah investor (pemilik), kreditor, pelanggan, pemasok, karyawan, lembaga pemerintah, dan masyarakat umum juga berkepentingan dengan informasi keuangan perusahaan. Investor berkepentingan untuk menentukan apakah mereka sebaiknya menjual atau tetap memegang saham perusa­haan. kreditor berkepentingan untuk memutuskan apakah kredit kepada perusahaan dapat diperpanjang atau diperbesar.

Lembaga pemerintah berke­pentingan untuk mengevaluasi kewajiban pajak perusahaan dan menilai apakah perusahaan mematuhi peraturan-peraturan yang ditetapkan pemerintah. Karyawan merupakan pihak luar karma hubungan karyawan dan perusahaan sebenarnya dapat dianggap sebagai hubungan kontrak kerja. Karyawan mungkin berkepentingan dengan informasi keuangan untuk mengetahui hak-hak apa yang dapat diperoleh dari perusahaan. Pelanggan (customer) berkepentingan dengan informasi keuangan untuk mengevaluasi hubungan usaha dengan peru­sahaan den menentukan kelanjutan hubungan di masa datang. Seperti juga pelanggan, pemasok (supplier) berkepentingan untuk mengevaluasi hubungan usaha dengan perusahaan. Masyarakat umum berkepentingan juga karena aspek umum dan sosial perusahaan sebagai lembaga ekonomi masyarakat. Lem­baga pendidikan berkepentingan dengan informasi keuangan untuk tujuan penelitian. Masyarakat umum yang biasanya merupakan pihak yang tidak berkepentingan langsung dengan perusahaan misalnya adalah analis keuangan, badan pembinaan pasar modal, pusat data bisnis, wartawan, pengadilan dan pengacara, asosiasi pengusaha, serikat buruh, dan biro pusat statistik.

Informasi keuangan untuk pihak luar dituangkan dalam seperangkat la­poran keuangan resmi yang terdiri alas neraca, laporan laba-rugi, laporan perubahan modal dan laporan arus kas. Untuk kepentingan pihak luar, perusa­haan tidak menyusun laporan khusus untuk pihak tertentu. Perusahaan hanya menyajikan satu perangkat laporan untuk berbagai pihak luar tersebut. Oleh karena itu, laporan keuangan resmi untuk pihak luar sering disebut dengan laporan keuangan umum (general purpose financial statements). Akun­tansi yang membahas prinsip, prosedur dan teknik penyusunan laporan keuangan umum ini disebut dengan akuntansi keuangan (financial accounting).

Tidak ada komentar: