Sabtu, 09 April 2011

Produksi Garam Pamekasan Anjlok

Liputan-Madura Produksi garam di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, setahun terakhir anjlok. Anomali cuaca menjadi faktor utama dan petani garam mengalami kerugian. Sebab, selama tahun 2010 sama sekali tidak ada panen garam.

Ketua Komisi Garam Pamekasan Yoyok Rahmat Efendi menuturkan, tahun lalu produksi garam petani di Pamekasan hanya 2 persen dari produksi 80.000 ton per tahunnya. "Produksi tersebut kami anggap tidak ada karena kualitas garam petani panen prematur," kata Yoyok, Sabtu (9/4/2011).

Di samping itu, produksi tersebut jauh dari kebutuhan garam nasional. Anjloknya produksi garam itu sangat berpengaruh terhadap harga. Harga garam rakyat meningkat 100 persen, yakni Rp 750 per kg. Tahun-tahun sebelumnya per kilogramnya berkisar Rp 350.

Alvia Nuris, salah satu pengepul garam asal Desa Bulay, Kecamatan Galis Pamekasan, menuturkan, harga tersebut belum pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. "Harganya mahal, tetapi barangnya tidak ada. Ini kejadian pertama di Madura," katanya.

Jika anomali cuaca terus terjadi sepanjang tahun ini, menurut Yoyok, petani harus mendapatkan alternatif pekerjaan. "Saat ini posisi petani sangat terjepit lantaran modal usaha yang digunakan untuk mengolah garam tahun lalu hasil dari pinjaman kepada rentenir," terangnya.

Seharusnya, tambah Yoyok, sektor perikanan segera digerakkan. "Beberapa lahan pegaraman milik petani dialihkan pada budidaya ikan sehingga mereka tidak diam meratapi utang yang melilitnya," katanya.

Di Pamekasan, lahan pegaraman cukup luas mencapai 900 hektar. Lahan tersebut terbagi di dua kecamatan, yakni Galis dan Pademawu. Kini lahan tersebut dibiarkan begitu saja tidak terawat, di mana di dalamnya hanya berisi genangan air hujan.

Sumber: KOMPAS.com

1 komentar:

Blog Lora Malunk mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.