Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 November 2011

Upacara Pernikahan Secara adat di Madura


Pasangan Pengantin Madura
Dalam Balutan pakaian Adat
Perkawinan merupakan Upacara paling sakral dalam perjalanan kehidupan manusia. Suatu kenyataan bahwa Indonesia terdiri atas beberapa Suku Bangsa, Agama, Adat Istiadat yang berbeda, dengan latar belakang sosial budaya yang beraneka ragam. Masing-masing daerah mempunyai tata cara tersendiri .tak terkecuali dalam adat prosesi perkawinannya, baik Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Madura pada umumnya. Pada Upacara Perkawinan biasanya kedua mempelai dirias berbusana secara khusus. Berbeda apa yang mereka pakai pada pesta-pesta resepsi sehari-hari. Tata rias dan busana pengantin menjadi pusat perhatian. Masyarakat dan khususnya menarik perhatian para tamu yang hadir dalam pesta itu. Oleh karena itu, hal yang demikian itu ternyata juga dilakukan oleh suku bangsa Madura pada umumnya dan khususnya Sumenep sendiri.

Pakaian pengantin dan alat-alat rias disediakan secara khusus serta pemakainya mempunyai tata cara dan aturan-aturan tertentu yang harus dipatuhi, maka diharapkan salah satu tujuan tata rias akan berhasil yaitu pengantin akan kelihatan ( benne bahasa madura ) atau pengantin putri akan tampak lebih cantik dan anggun, pengantin pria nampak tampan. Tata rias pengantin kecuali mengandung arti keindahan ( estetis ) relegius dan ada kalanya mengandung arti simbolis serta fungsi dalam kehidupan masyarakat.

Prosesi Adat Lamaran

Sebelum dilakukan lamaran biasanya di Madura didahului dengan adanya :
NGANGINI (memberi angin/memberi kabar)
ARABAR PAGAR (membabat pagar/perkenalan antar orang tua)
ALAMAR NYABA "JAJAN"
ATER TOLO (mengantar bedak perlengkapan kecantikan, beras, pakaian adat untuk lebaran)
NYEDDEK TEMMO (menentukan tanggal hari H perkawinan).

Kalau pelaksanaan pernikahan ingin dipercepat, biasanya dilengkapi dengan pisang susu yang berarti kesusu, jangan lupa sirih dan pisang. Lalu satu perangkat bahan pakaian termasuk ikat pinggang (stagen) yang berarti anak gadisnya sudah ada yang mengikat.

Setelah bawaan pihak laki-laki digelar diatas meja didepan para tamu sambil tutupya dibuka untuk disaksikan apa isinya oleh para pini sepuh. Tetapi semua barang yang dibawa bergantung kepada kemampuan orang tua. Setelah ada penyerahan kemudian oleh-oleh tersebut dibawa masuk. Pada pertengahan acara pihak laki-laki meminta supaya anak gadisnya diperkenalkan. Lalu disuruh sungkem kepada calon suami dan para pini sepuhnya yang sudah siap dengan amplop yang berisi uang untuk diberikan kepada calon mantunya. Setelah tamu pulang maka oleh-oleh dikeluarkan lagi untuk dibagikan kepada pini sepuh, sanak famili serta tetangga dekat, untuk memberi tahu bahwa anak gadisnya sudah bertunangan. Pada malam harinya calon mantu laki-laki diantar oleh kerabat untuk berkenalan dengan calon mertuanya.

Seminggu kemudian pihak perempuan mengadakan kunjungan balasan dengan membawa nasi lengkap dengan lauk pauknya antara lain hidangan nasi, 6 piring karang benaci (ikan kambing yang dimasak kecap), 1 waskom gulai kambing, 6 piring ikan kambing masak putih, 6 piring masak ikan ayam masak merah, 6 sisir sate yang besar-besar (1 sisir 10 tusuk), 2 sisir pisang raja.

Balasan jajan untuk calon mantu laki-laki terdiri dari satu tenong berisi nasi lengkap dengan lauknya. Setelah acara lamaran ini maka resmilah hubungan antara anak gadisnya dengan calon mantunya.

Acara Sebelum dan Pada Saat Perkawinan

Perawatan untuk calon mempelai wanita, 40 hari sebelum melangsungkan pernikahan biasanya calon mempelai wanita Madura sudah dipingit artinya dilarang meninggalkan rumah, dalam masa ini biasanya calon mempelai melakukan perawatan-perawatan tubuh dengan:

Meminum ramuan jamu Madura:

Untuk perawatan kulit menggunakan bedak penghalus kulit, bedak dingin, bedak mangir wangi, bedak kamoridhan, bedak bida yang berkhasiat: menjaga kesehatan kulit, menghaluskan kulit muka, menjadikan kulit langsat kuning, menghilangkan bau badan dll.

Menghindarkan makanan yang banyak mengandung air misalnya buah-buahan (nanas, mentimun, pepaya). Perawatan rambut wangi-wangian menggunakan dupa.

Upacara Pernikahan

Pada saat melangsungkan pernikahan calon mempelai pria mengenakan BESKAP BLANGKON, dan KAIN PANJANG dengan diiringi oleh orang tua, pini sepuh dan kerabat keluarga.

Sedangkan untuk calon mempelai wanita menggunakan kebaya dan kain panjang dengan dandanan sederhana. Upacara Akad Nikah dilaksanakan oleh penghulu dengan dua orang saksi (Ijab Kabul) dengan disaksikan oleh para undangan yang pada umumnya dengan mas kawin berupa Al Qur'an dan Sajadah (bentuk apa saja menurut kehendak) dan selanjutnya dengan syukuran bersama. Maka resmilah anak gadisnya menjadi istri dari anak keluarga laki-lakinya. Kemudian mempelai laki-laki pulang dulu kerumahnya dilanjutkan dengan resepsi pernikahan pada malam harinya.

Resepsi Perkawinan

Tata rias penganten Sumenep ada 3 macam: penganten malam pertama: rias lega, penganten malam kedua: rias kapotren, penganten malam ketiga rias lilin.

Resepsi Malam Pertama

Pada malam resepsi perkawinan kedua mempelai datang ke tempat resepsi dengan diiringi oleh perias dan para pini sepuh beserta kerabatnya atau dengan diantar oleh paman mempelai wanita memasuki ruang resepsi. Kemudian dilanjutkan dengan upacara Muter Dulang yaitu penganten wanita duduk bersila pada sebuah baki besaf dengan membelakangi arah datangnya penganten pria. Penganten pria berjalan jongkok menuju penganten wanita dan memutar baki sampai berhadapan dengan artian bahwa penganten pria sudah siap memutar roda rumah tangga.

Sesudah penganten pria memegang ubun-ubun penganten wanita dengan mengucap "AKU ADALAH SUAMIMU DAN ENGKAU ADALAH ISTRIKU" kemudian penganten wanita diajak menuju pelaminan dengan menggunakan pakaian adat (LEGA). Sedangkan Undangan adalah para pini sepuh, handai taulan dan semua sanak saudara serta para kerabat dari kedua belah pihak.

Resepsi Malam Kedua

Pada malam kedua busana manten adalah KAPUTREN dan undangan terdiri para pini sepuh dan kalangan dekat saja.

Resepsi Malam Ketiga

Pada malam ketiga ini penganten menggunakan rias lilin dengan kebaya putih dengan hiasan melati menandakan lambang kesucian dan merupakan malam pertama untuk penganten.

Pada hari yang keempat penganten sudah mengadakan kunjungan keluarga kepada mertua dan sanak famili, dan manten wanita setiap berkunjung akan selalu mendapat ONTALAN yaitu berupa pemberian uang dengan ucapan " SELAMAT MENEMPUH HIDUP BARU ".


Sumber: www.petra.ac.id

Jumat, 04 November 2011

Tradisi Upacara Pengantin Ngekak Sangger di Legung Kabupaten Sumenep


Upacara adat pengantin di pedesaan Legung ini dikenal dengan nama sebutan Ngekak Sangger sampai sekarang tradisi ini masih disukai dan dilaksanakan oleh masyarakat Desa Legung kecamatan Batang-batang Kabupaten Sumenep dalam setiap hajatan perkawinan. Proses awal perkawinan dimulai dengan tahapan mencari jodoh dan tahapan iini dibagi menjadi dua bagian yang dikenal dengan sebutan :

A. Ngen-angenan atau Khabar

Dimana orang tua berusaha untuk mencari calon isteri untuk anaknya yang sudah dewasa (baligh ) dan berkeinginan mencari pasangan hidup dengan meminta bantuan kepada seseorang yang disebut dengan Pangadek.

B. Arabas Pagar

Peran pangadek mencari keterangan calon penganten yang diincarnya melalui tetangga atau kerabat dekat gadis ( calon ) untuk memperoleh keterangan atai informsi, apakah sang gadis sudah mempunyai tunangan atau pacar ( bahasa trend masa kini ) atau masih sendiri, setelah melalui proses awal yang begitu panjang maka dimulailah proses lanjutan yang disebut masa bertunangan alias Abakalan.

C. Nyabak Jajan atau Lamaran

Calon mempelai laki-laki mengirimkan seperangkat alat-alat keperluan wanita yang dibawa oleh rombongan secara beriringan seperti kain, seperangkat perhiasan emas ( bagi yang mampu ) , bedak serta segala macam kue- kue dan makanan khas daerahnya dan proses ini disebut dengan BHAN - GHIBAN, setelah menerima pemberian ini maka pihak wanita segera membalas dengan memberi seperangkat keperluan calon laki ¡V laki dengan berbagai macam masakan atau makanan serta ikan yang dibawa oleh kerabat atau saudara dekat ( famili ) proses ini disebut BALESSAN dari pihak wanita ( gadis ) kepada calon laki ¡V laki , atau juga disebut dengan istilah TONGEBBHAN. Sesudah berlangsungnya proses tersebut diatas, maka sejak saat itu sang gadis atau paraban sudah menjadi bakal  atau tunangan calon laki-laki.

RANGKAIAN UPACARA PERKAWINAN
Pakaian Pengantin
Dalam Tradisi Adat Madura
Menjelang hari-hari perkawinan dimana sang kedua mempelai mengadakan persiapan-persiapan diantaranya memperindah bentuk gigi, peristiwa ini disebut dengan mamapar atau meratakan gigi , menurut anggapan orang di pedesaan, bahwa gigi yang indah adalah gigi yang rata tanpa ada tonjolan , setelah itu ada acara pingitan untuk calon pengantin wanita dimana si calon pengantin wanita itu dipingit dengan orang tua supaya tidak keluar pekarangan rumah bahkan takut terkena sarapat alias e rok-torok yaitu kerasukan roh halus. Selanjutnya sampailah pada hari yang sudah ditetapkan, yaitu pelaksanaan acara yang sangat sakral yaitu ditetapkannya acara Ijab Kabul ( akad nikah ) untuk mengikuti sunnah Rasul yang bertempat di rumah mempelai perempuan. Sehari menjelang dilaksanakannya upacara perkawinan adat dengan bertempat di rumah penganten wanita yang dituakan dan ia berpakaian serba tertutup membawa kendi berisi air serta lampu minyak yang dikenal dengan sebutan Demar Kambheng . Di sepanjang perjalanan menuju rumah mempelai wanita membisu dan tidak boleh membalas teguran sapa orang. Sementara itu, kendi berisi air ditangannya harus dituangkan sedikit demi sedikit sepanjang perjalanan, kemudian Demar Kambheng diletakkan di kamar mempelai wanita, hal ini dimaksud sebagai pembuka jalan demi keselamatan bagi kedua
mempelai dalam melaksanakan upacara perkawinan.


Sumber: Info Wisata

Jumat, 28 Oktober 2011

Kejayaan Garam Madura Dahulu

Berikut bukti otentik besarnya indusri Garam di Madura.

Tangki air di samping pabrik garam Kalianget, Madura Tahun 1914-1925
(Sumber: wikimedia.org)


Petani Garam Tahun 1914-1925
(sumber: wikimedia.org)

Produksi garam di Kalianget perusahaan, Madura tahun 1914-1925
(Sumber: wikimedia.org)


Pekerja bekerja di pabrik garam perusahaan di Kalianget, Madura tahun 1914-1925
(Sumber: wikimedia.org)

Karyawan menangani garam mentah diperkenalkan dalam pabrik garam Kalianget, Madura
Tahun 4 September 1927 (Sumber : wikimedia.org)



Karyawan Perusahaan Garam bersama alat pengangkut Garam kering,
Kalianget 14 September 1927. (Sumber: wikimedia.org)



Bongkar Muat Garam Tahun 1900-1940
(Sumber: wikimedia.org)
Alat Cetak Garam Tahun 1948
(Sumber: wikimedia.org)
Dalam sebuah pabrik Kalianget, Madura, kotak kardus yang disegel
dengan garam sebelum 1925.
(Sumebr: wikimedi.org)



Oven untuk pencetakan garam sebelum 1925
(Sumber: wikimedia,.org)

(Sumber: wikimedia.org)
Di ruang kemasan dari pabrik Kalianget, Madura, garam dikemas sebelum 1925

Transportasi garam, mungkin setelah pengolahan di Kaliangat
Tahun 1914-1925 (Sumber: wikimedia.org)

Saat ini Industri Garam Madura tidak seindah dahulu.
Untuk Foto Madura Jadul

Untuk melihat foto-foto Madura Jadul Silahkan klik link berikut "madura tempoe doeloe"

*Seluruh Foto bersumber dari wikimedia.org, link sumber telah tertanam di setiap foto. LiputanMadura.com menjunjung Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)>

Kamis, 27 Oktober 2011

Madura Tempo Doeloe (Madura dalam Bingkai Foto)

Peradaban di Madura sungguh Indah nampak dari beberapa foto di bawah ini:




Petani Madura sedang menanam Padi
(Sumber: wikimedia.org)
Pekerja di Madura Tahun 1900-1940
(Sumber :wikimedia.org)
Pengantin di kirab kuda si sumenep
(Sumebr: wikimedia.org)

Sejumlah Orang dengan Sapi (tampaknya Sapi Sonok)
Foto tersebut tertanggal 10 oktober 1932 diabadikan oleh M.J. (Marius) van Benthem Jutting.
Sayangnya lokasi foto tidak di sebutkan (sumber: wikimedia.org).

Dekorasi Sapi untuk Sapi Sonok di Bangkalan 08 Oktober 1922.
Sayangnya tidak ada penjelasan siapa yang membuatnya (Sumber: wikimedia.org)
Pemenang Karapan Sapi Sekitar tahun1900-1940.
Sayang tidak ada penjelasan lebih lanjut (Sumber: wikimedia.org)


Diatas adalah suasana Pulau Para Sapi (Pulau Sapudi) Kab. Sumenep, Madura.
Sayangnya tidak ada informasi lebih lanjut (Sumber: wikimedia.org)

Mercusuar (Sepertinya Mercusuar di Socah Bangkalan) tahun 1890-1917.
Fotografer tidak di ketahui. (Sumber: wikimedia.org)


Penari Madura : Tahun 1890-1917, tidak di ketahui penjelasan lebih lanjut.
(Sumber: wikimedia.org)
Goa di Madura (kemungkinan Gua Payudan) Tahun 1890-1917.
Seumber (wikimedia.org)
Pengeboran Rakyat, tidak ada penjelasan lebih lanjut.
(Sumber : wikimedia.org)
Suasana Pasar di Madura Tahun 1890-1917. Tidak ada penjelasan .
(Sumber: wikimedia.org)




Megolah Gerabah (disalah satu desa kabupaten Sumenep) Tahun1910-1925
(Sumber: wkimedia.org)

Statisun Trem di KAMALPIER Perusahaan Trem Madura di Kamal,
Tahun
1910-1930 (sumber:wikimedia.org)
Stasiun Kamal (Kamal Pier) Tahun 1934
(Sumber: wikimedia.org)


Potret Komandan Barisan Mayor Corps untuk Bangkalan, Madura
(Sumber: wikimedia.org)
Bataljon Barisan Bangkalan pada th. 1931
(sumber: buku langka)

Pelabuhan Kapal : Kapal sedang mengangkut gubernur Madoera Fock
Pada Tahun 1922 (Sumber: wikimedi.org)

Hiu raksasa tertangkap di Selat Madura Tahun 1910
(Sumber: wikimedia.org)



Perahu Nelayan di sebuah sungai
(sumber: wikimedi.org)

Salah satu jembatan kereta api di Sampang
(Sumber: wikimedia.org)

Madura Tempo Dolo (Madura Jadul), Informasi ini kami dapatkan dari internet sebenarnya masih ada beberapa foto lagi yang ingin kami posting namun kami membagi beberapa edisi postingan seperti Garam di Madura.
Untuk melihat foto-foto Madura Jadul Silahkan klik link berikut "madura tempoe doeloe"

*Seluruh Foto bersumber dari wikimedia.org, link sumber telah tertanam di setiap foto. LiputanMadura.com menjunjung Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)>

Madura pernah jadi Negara


Berdasarkan Tulisan Muryad dosen Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Unair*, Surabaya Madura dahulu pernah menjadi suatu negara dalam kurun waktu 


Pembentukan Negara Madura

Pada bulan Desember l947 di Jakarta terbentuk Komite Indonesia Serikat yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil negara bagian dan tokoh -tokoh politik termasuk di dalamnya wakil dari Madura. Tugas utama dari komite ini adalah membentuk negara Indonesia Serikat. Oleh karena itu perwakilan yang hadir setelah pertemuan  berakhir diberi tugas supaya merundingkan hal ini dengan rakyat di daerahnya masing -masing. Sebagai tindak lanjut dari keputusan ini maka pada tanggal 16 Januari 1948 di Madura berhasil didirikan Komite  Penentuan Kedudukan Madura.

Pada tanggal 23 Januari 1948 diadakan pemungutan suara  yang banyak mendapat tekanan dari Belanda. Cara yang dilakukan dalam pemungutan suara adalah di tiap -tiap desa terlebih dahulu akan diberi penjelasan mengenai maksud dan tujuan dari pemungutan suara . Dari pelaksanaan pemungutan suara diperoleh hasil sebagai berikut:

Orang yang berhak memberikan suara:
305.546 orang
Orang yang hadir:
2l9.660 orang (7l,88 %)
Orang yang menyatakan setuju:
l99.5l0 orang (90,82 %)
Orang yang tidak setuju:
9.923 orang (4,5l %)
Orang yang tidak memberikan suara:
l0.230 orang (4,65 %)

Van Mook
Dari hasil pemungutan suara itu maka terlihat 7l,88% rakyat setuju Madura berdiri sebagai negara sendiri yang terpisah dari Neg ara Republik Indonesia. Pada saat pelaksanaan pemungutan suara, pihak Belanda banyak terlibat dengan cara melakukan berbagai tekanan dan menangkapi serta menahan orang yang tidak disukainya.



Dari hasil inilah maka pada tanggal 20 Februari 1948 secara resmi pemerintah Hindia Belanda melalui Letnan Gubernur Jenderal van Mook mengakui dan merestui berdirinya Negara Madura. Sebagai Wali Negara ditunjuk  Cakraningrat ( Arsip Kementerian Penerangan No. 99 dikutip dari Seri penerbitan Naskah Sumber Arsip No.2. Badan Arsip Propinsi Jawa Timur, 2002: 25-26). Sementara itu pada tanggal 15 April 1948 telah diadakan juga pemilihan Dewan Perwakilan Negara Madura dan dalam bulan Desember 1948 dewan ini telah diadakan pelantikan di Pamekasan


Pembubaran Negara Madura untuk Kembali ke dalam NKR

R.A.A. Tjakraningrat dan Istri
Pada tanggal 23 Februari 1950 Bupati Notohadikusumo melaporkan kepada Pemerintah RI di Yogyakarta mengenai situasi politik di Madura dan mendesak kepada pemerintah agar segera memberi keputusan bahwa Madura sudah masuk bergabung den gan wilayah RI kembali. Setelah menunggu beberapa hari ternyata keinginan itu belum mendapat balasan dari Pemerintah RI, maka pada tangal 4 Maret 1950 beberapa orang wakil fraksi menemui Gubernur Jawa Timur, memohon Madura secara de facto diakui syah menja di Daerah Karesidenan Madura sebagai bagian dari Propinsi Jawa Timur.

Rasa tidak puas terhadap pembentukan Negara Madura pada saat itu juga dilampiaskan oleh rakyat dengan cara memaksa para pejabat yang dirasa anti terhadap NKRI, seperti Asisten Wedono Pegantenan Ario Moh. Hanafi, Asisten Wedono Pakong, Moh Amin,  dan Asisten

Wedono Proppo Wongsodirejo untuk mundur dari jabatannya. Selain itu rakyat juga menuntut para pejabat pamong praja yang dirasa pengangkatannya berbau feodal dan masih ada hubungan keluarga dengan Wali Negara Cakraningrat. Tidak kurang dari 16 orang pejabat yang dipaksa turun dari jabatan pada saat ini, misalnya: Bupati Bangkalan Sis Cakraningrat (anak dari Cakraningrat), Sekretaris Umum Wali Negara Ruslan Cakraningrat (anak Cakraningra t), Abdul Rachman, Kepala Departemen Pemerintah, Polisi dan Keamanan (orang kepercayaan Cakraningrat), dan masih banyak pejabat -pejabat lainnya ( Arsip Kabinet Perdana Menteri Jogjakarta No. 84 dikutip dari Seri Penerbitan Naskah Sumber Arsip no.2, Badan A rsip Propinsi Jawa Timur, 2002: 174-176).

Untuk menghindari agar tidak terjadi hal -hal yang tidak diinginkan, maka pada tanggal 7 Maret 1950 Gubernur Jawa Timur Samadikun menunjuk R. Sunarto Hadiwijoyo sebagai Wakil Residen Madura. Tidak lama kemudian pa da tanggal 19 Maret 1950 turunlah Surat Keputusan Presiden RIS yang isinya menetapkan daerah Madura sebagai Residen dari Republik Indonesia.

Surat dari presiden ini kemudian ditindaklanjuti dengan diadakan serah terima kekuasaan di Madura dari pejabat sebelumnya yakni R.T.A. Notohadikusumo kepada pejabat baru R. Sunarto Hadiwijoyo. Dengan demikian maka mulai saat itu Madura telah diperintah oleh pejabat RI. Beliaulah pejabat Residen Madura yang pertama sesudah pendudukan Belanda berakhir (Abdurachman, 1988: 75-76).

Semoga Informasi ini menambah Khasanah pengetahun kita tentang Madura.


*NEGARA MADURA: Sejarah Pembentukan hingga Penyelesaiannya dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Rabu, 12 Oktober 2011

Upacara Nyadar

Sebagai salah satu Kabupaten di Madura, Sumenep merupakan daerah yang kaya akan seni tradisi, baik yang berupa seni profan maupun yang bersifat ritual. Keberagaman wilayah dan penduduknya dengan aneka sumber penghidupan penduduknya telah menimbulkan berbagai bentuk keseneian yang khas. Bila dunia pertanian, kemudian memunculkan kesenian kerapan Sapi maka dalam masyarakat petani garam di daerah Pinggir Papas mengenal tradisi Upacara Adat Nyadar.


Nyadar merupakan salah satu bentuk penghargaan warga pinggir papas tertahap leluhur mereka yang bernama Pangeran Anggosuto yang banyak berjasa memberikan pengetahuan mengenai teknik pembuatan garam.

Dalam catatan sejarah Sumenep, Anggosuto dikenal sebagai pahlawan yang berjasa menyelamatkan orang-orang tentara Bali yang terdesak ketika kalah perang melawan pasuka Kraton Sumenep.

Dalam peristiwa tersebut panggeran Anggosuto memberikan jaminan kepada Raja Sumenep, bahwa sisa tentara Bali yang ada di Pinggirpapas menjadi tanggung jawabnya. Jaminan yang diberikan pangeran Anggosuto dapat diterima oleh Raja Sumenep sehingga kemudian orang-orang yang kalah perang tersebut menjadi cikal bakal penghuni daerah Pinggirpapas.

Untuk mengingat jasanya sampai saat ini pemakaman pangeran Anggosuto menjadi tempat pelaksanaan ritual upacara Nyadar. Pelaksanaan nyadar didasarkan pada perhitungan pergeseran bintang antara tanggal 21 Maret dan 21 Juni setiap marahari bergeser pada equator menuju garis balik utara (23,5° LU). Pada posisi itu Bintang Karteka (Kartika) dan Bintang Nanggele (bintang bajak) muncul dari arah timur.

Upacara nyader di desa Kebundadap Barat Kecamatan Saronggi merupakan acara rutin yang dilaksanakan tiga kali dalam setahun, yaitu:
  1. Bulan Juli merupakan Nyadar pertama
  2. Bulan Agustus merupakan Nyadar kedua
  3. Bulan September merupakan Nyadar ketiga


Hari yang ditetapkan untuk pelaksanaan upacara itu adalah hari Jumat (hari pertama) dan Sabtu (hari kedua). Penentuan tanggal pelaksanaan menjadi tanggung jawab penghulu, lalu ia melapor pada ketua adat dan keputusan disahkan dalam upacara perembukan (musyawarah).

Upacara adat dipimpin oleh empat orang berdasarkan asal muasal leluhurnya. Para pemimpin itu dibantu oleh seorang penghulu yang dilantik pada saat dilaksanakan upacara nyadar. Mereka juga dibantu oleh juru do’a.

Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam pelaksanaan upacara nyadar yang diadakan di desa Kebundadap, persyaratan tersebut ada hubungannya dengan peringatan Maulid Nabi, diantaranya:

  • Pelaksanaan upacara tidak diperkenankan diadakan sebelum tanggal 12 Maulid
  • Selamatan yang diadakan tidak boleh melebihi besarnya selamatan yang diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Peserta upacara nyadar terlebih dahulu diwajibkan merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW
Semua prosesi yang dilaksanakan pada upacara nyadar mempunyai makna tersendiri, ada yang untuk keselamatan, mendapatkan berkah dan ampunan dari Allah SWT.

sumber: http://www.sumenep.info

Sabtu, 08 Oktober 2011

Upacar Adat Pangkak, Kearifan Lokal dari Pulau Kangean

Ke arah timur +/- 99 millaut dari kota Sumenep terdapat sebuah pulau yang berjarak yaitu Pulau Kangean.Pulau ini dapat ditempuh dengan menggunakan kapal 7 jam perjalanan. Pusatkegiatan administrasi laut atau perahu mesin pemerintahan di pulau ini adalahdi Kecamatan Arjasa, dimana di tempat ini salah satu potensi budaya tumbuh,berkembang, memasyarakat, dan menarik sebagai suatu kekhasan seni budaya diKabupaten Sumenep, yaitu Upacara Adat “Pangkak” yang terdapat di DesaKalikatak.

Upacara adat ini berawaldari sebuah tradisi unik masyarakat Pulau Kangean. Yang biasanya mengadakanacara panen (menuai padi) bersama, dengan tujuan sebagai rasa syukur masyarakatdan pemupuk rasa kebersamaan.
Upacara ini dikemasdengan memadukan ritual keagamaan, kesenian, dan aktivitas masyarakat setempatdalam keseharian. Upacara Pangkak bukanlah upacara besar sebagai manaupacara-upacara ritual yang dilakukan masyarakat Sumenep pada umumnya. Namunupacara ini, lebih menonjolkan sifatnya yang sederhana, unik, kebersamaan, danjauh berbeda dengan upacara yang kita kenal (misalnya NYADAR), upacara Pangkaksangat jauh dari hal-hal yang berbau mistis.
Karena sifatnya yangkedaerahan dan sangat sederhana, upacara Pangkak sendiri kurang mendapatperhatian dan sorotan dari masyarakat maupun dari pemerintah Sumenep. Tak ayaljika keluar sedikit dari kawasan Kangean, Pangkak menjadi sebuah nama yangasing bagi para pendengarnya. Meskipun demikian yang tak boleh dilupakan adalahbahwa Pangkak merupakan salah satu tradisi peninggalan yang dapat menunjukansuatu identitas social kehidupan dari masyarakat Pulau Kangean, sehingga tidakberlebihan kiranya jika bukan hanya masyarakat Pulau Kangean saja yang menjagaidentitas tersebut, namun kita secara bersama-sama saling menyelamatkan upacaraadat yang hampir punah ini.
Seperti halnya desa-desalain, desa Angon-angon mempunyai beberapa adat istiadat yang tidak jauh bedadengan mereka, diantaranya adalah adapt pernikahan.
Seperti yang dikutip daripara sesepuh, soal peminangan seorang gadis sampai pada acara pernikahannya,maka pada mulanya orang tua para dua calon mempelai membuat suatu kesepakatantanpa sepengetahuan dua calon mempelai tesebut karena sudah menjadi adaptataupun tradisi sejak nenek moyang terdahulu. Konon katanya selalu dijodohkanpada famili-familinya sendiri dengan alas an agar ikatan kekeluargaan tidakterputus dan menjadi keluarga besar secara turum temurun.


Kemudian menurutkebiasaan para orang tua laki-laki, sehingga akan selalu melihat danmemperhatikan di setiap kalangan keluarga-keluarganya sendiri, barangkalidisitu kebetulan ada gadisnya, barulah para orang tua bermusyawarah untukmeminangnya. Setelah ada kesepakatan maka orang tua laki-laki mendatangi rumahsi gadis tersebut dengan membawa kopi gula, dengan maksud sementara menanyakansi gadis itu, walaupun sebenarnay sudah tahu bahwa si gadis itu kosong. Namunjawabannya sementara dari pihak orang tua si gadis menyampaikan terima kasihatas kunjungannya. Setelah bermufakat dengan para sesepuh barulah orang tua mengunjungirumah pihak laki-laki dengan membawa kue-kue ala kadarnya sebagai pernyataansetuju.

Selanjutnya, datanglahpihak laki-laki untuk kedua kalinya dengan membawa Pisang dan Nangga Sari.Sementara art dari persembahan-persembahan tadi mengandung makna yang penting.Misalanya pisang ini ada dua macam yaitu pisang muda dan pisang yang sudahmatang. Pisang muda dapat diartikan bahwa perkawinan masih lama waktunya.Sedangkan pisang yang sudah matang mengandung arti bahwa perkawinannya sudahtidak lama lagi waktunya. Kemudian makna dari Nangga Sari ialah mencari(Asare).
Karena peminangan tadisudah disetujui, maka keesokan harinya datanglah si tunangan laki-laki ketempatsi gadis dengan membawa sepikul kayu bakar sebagai persembahan dan sebagaisuatu tanda bahwa si tunangan sudah bertandang, dengan maksud ngapel (Asanjhe).
Selanjutnya setelahpertunangan terus berlangsung maka tibalah waktunya pada musim semi, sebagaipetanda bahwa sebentar lagi para petani turun kesawahnya masing-masing.Biasanya bagi bisan perempuan mengadakan selamatan mengundang bisan laki-lakidan tetangga terdekat sedangkan bisan laki-laki membawa beras sekaligus denganrempah secukupnya. Sesuai itu keesokan harinya pergi ke leluhurnya untuk mintasaat yang bagus, sesuai keyakinan diwaktu itu, barulah bisa turun ke sawahnyabesama-sama dengan bisan untuk mengolah tanah sawah tersebut dan menanam bibitpadi. Menjelang kemudian setelah bibit padi siapa di tananam, maka bisanperempuan mengundang lagi untuk bercorak tanam bersama-sama.
Setelah tanam padi terusbergabung hingga padi semakin tua, maka petani membangun gubuk-untuk tempatberteduh sambil menunggu saat panen padi tiba (Arangge’). Setelah padi mualaimenguning maka para petani berbondong-bondong menempati gubuk tersebut disawahnya masing-masing (Apondung) menyiapkan segala sesuatunya untuk saat panenpadi nanti, dengan berbulan-bulan di sawahnya manjaga padinya yang sudah siapdi panen.
Saat panen tiba maka parapetani yang hasil taninya banyak dan memuaskan, mereka sambil lalu mengadakankesenian Pangkak. Pangkak di lakukan oleh para lelaki sedangkan perempuaannyamenonton sambil memanen padi.
Pangkak adalah musik yangterbentuk suara mulut yang disertai dengan tari-tarian. Di tengah–tengahpermainan seni Pangkak para tetangga sekitarpun semakin senang dan makin banyakyang berdatangan sehingga para pemanen para pemanen padi semakin senang dansemakin banyak yang berdatangan sehingga para pemanen padi semakin semangatmenyelesaikan perkerjaannya .
Pangkak waktu dulu telahmembudaya hingga hingga cara berpakaiyanpun sangat rapi diantaranya: sarungmerah, baju putih dan memakai blangkon (SENGEL).
Setelah panen selesai,maka padi tersebut diangkut dengan kuda yang beriring – iringan. Menurutkebiasaan diwaktu dulu, setelah padi sudah di tempatlama kemudciaan dari pihakperempuan berbincang – bincang merencanakan hari dan tanggal perkawinan.Setelah hari tanggal dan waktu acara sudah di tentukan maka bisan perempuanmemberitahukan kepada bisan laki – laki tentang keputusan waktu pernikahan.Kurang lebih sekitar 1 bulan menjelang hari pernikahan biasanya dari pihak laki– laki mengadakan acara yang di namakan PEPENTA'AN
Pepenta'an dilakukandengan mengondang sanak familinya sendiri dan tetannga terdekat yang dilakukansore hari dengan berbondong – bondong sepanjang jalan yang berjulah sekitar 300orang. Ada yang membawa kue seperti rangginang dan ada juga yang membawaperalatan seperti lamari, ranjang kasur dan lain–lain yang din iringi kesenianadat yaitu GENDENG DUMEK .
Keesokan harinya daripihak perempuan mengadakan acara ke tempat pihak laki–laki yang di sebutBEBELESAN. Selanjutnya sampailah pada hari akat nikah yang di rayakanseperlunya. Kemudian berikuanya di adakan suatu acara yang di namakan PANGANTENATOLO, yaitu pengantin laki–laki mau memasuki rumah pengantin perempuan yangdilakukan malam hari yang diiringi dengan oleh para keluarga dengan cara yaitusekitar 5 meter dari pintu masuk, maka pengantin laki-laki dan rombongannyajalan berjongkok sambil kedua tangannya menyalami kedua mertuanya. Sedangkanpengantin wanitanya menunggu di dalam kamar. Sorak para tamu dan undangan takterhentikan ketika pengantin laki-laki memasuki kamar wanita.
Keesokan harinyadilanjutkan dengan hiburan KOKOCORAN yang diselenggarakan sore hari yaitu parakeluarga daan kerabat menari mengelilingi kedua dua mempelai dengan gamelan dankebiasaan yang lain untuk meramaikan acara .

Pada malam kedua,kegiatan pentunjukan terus berlangsung seperti diadakan acara kesenian sepertiMACOPAT (melle’an) dan kedua mempelai tidak diperbolehkan untuk tidur selamaacara berlangsung satu malam suntuk untuk mendengarkan sura macopat yang merduyang dinamakan KAPOTREN.

Adat-istiadat terusberlangsung sehingga beberapa bulan kemudian sampai mempelai hamil, setelahkandungangnya berusia 7 bulan maka diadakan syukuran yang biasanya sebut denganselamatan 7 bulan, caranya ibu hamil didudukkan di atas kelapa sambil sangdukun dan para sesepuh menyerami air dengan cara bergantian kemudian kelapatadi dibelah dua dan dilemparkan ke atas untuk menentukan apakah yang akandilahirkannya nanti laki-laki atau perempuan. Setelah ruwat dilakukan biasanyaada sedikit perubahan pada ibu hamil tersebut seperti ngidam.

Beberapa bulan kemudian,lahirlah seorang bayi dan biasanya para kerabat dan tetangga menjenguknya. Danpada saat bayi berusia 40 hari diadakan acara selamatan yang biasanya disebutAQIQAH sekaligus pemberian nama.

Peristiwa Pangkak

Perlu diketahui terlebihdahulu, Upacara Adat Pangkak memiliki artian upacara pemotongan padi ataupemangkasan padi saat tiba masa panen. Artian ini diperoleh dari kata Pangkakyang dapat diartikan memotong atau memangkas dalam bahasa Madura.

Dapat diuraikan aktifitassebelum panen berjalan seperti biasa, mulai dari penanaman bibit, prosespenyiraman, pemberian pupuk, setelah mencapaimasa panen barulah aktifitasperayaan dipersiapkan. Dalam hal ini pemilik sawah bersiap-siap untuk merayakanUpacara Adat Pangkak. Persiapannya meliputi:

  1. Mempersiapkan surat undangan yangakan disebar dan memberikan pengumuman kepada para tamu yang akan di undang.Semakin banyak tamu yang menghadiri acara tersebut semakin bangga pula sangpemilik sawah.
  2. Mempersiapkan sesajen dan perlengkapanyang diperlukan
  3. Menunjuk seorang tetua adat untukmemimpin acara tersebut.


Setelah segala sesuatuyang diperlukan telah terasa siap, maka acara tersebut dapat dilaksanakan.Acara ini dilaksanakan pada malam bulan purnama dimana para undangan telahberada dan berkumpul di tengah sawah dengan mengenakan pakaian bagus berwarnanorak. Selain itu sang pria bertugas mengangkut padi dan kaum wanita bertugasmenuai padi, kemudian acara dimulai dengan pembacaan doa/parikan/mantra olehpawang pangkak desa setempat.

Adapun mantra tersebut ialah sebagai berikut:

Ambololo hak-hak, ambololo harra
akadi omba’ gulina padi
masa arangga’ terbhi’padi
togur reng tani lebur eoladi e masa reng tani arangga’ padi

Ambololohak-hak, ambololo harra
gumbhira kejung sambi atandhang
ka’dissa oreng lake’nabbu gendang
tal-ontalan palotan sambi atandhang
tanda nyare judu ate lodang
Ambololo hak-hak, ambololo harra

terjemahan bebasnya:

Ambololo hak-hak,ambololoharra
Andai ombak ayunan padi
Masa panen dekat menanti
Pondokan petani indahdilihat
Dimasa petani memotong padi

Ambololo hak-hak, ambololo harra
Riang lagusambil menari
Disana lelaki menabuh gendang
Saling melempar ketan silihberganti
Tanda jodoh dicari
Ambololo hak-hak, ambololo harra

Setelah pawangpangkak membacakan mantranya, kemudian acara selanjutnya diisi dengantari-tarian yang diiringi berbagai jenis musik pengiring. Adapun tari-tarianyang dibawakan adalah

  1. TariNgagga Manok (Tari Halau Burung): Tari yang dilakukan dipinggir sawah dimanagerakanya menyurupai menghalau burung agar tidak mendekat kearah padi yangsedang tumbuh.
  2. TariRonjhangan (Tari menumbuk Padi: Tarian yang dilakukan bersamaan dengan saat parawanita menumbuk padi secara bersamaan dan berleingan.
Selain itu untuk memperindah tarian tersebut juga diselingi beberapa musik pengiring yang berupa:
  1. Saronen:Musik tradisi rakyat yaitu Kennong Tello’
  2. Ronjangan:Alat penumbuk padi yang terbuat dari batangan kayu panjang yang diberi lubangsepanjang batang kayu.
Lihat juga Mamajir Tradisi Masyarakat Pulau Kangean Sambut Masa Tanam

dirangkum dari: berbagai tim liputanmadura